Tampilkan postingan dengan label Tausiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 April 2013

Agar Do'a Kita Terkabul

Agar Do'a Kita Terkabul

Ya Allah, Hanya Kepada-Mu lah Kami Memohon ...

Banyak banget kan hal di dunia ini yang tidak semuanya bisa kita lakukan sendiri. Kita pasti butuh pertolongan dari orang lain. Apalagi masalah akhirat, wah ga usah ditanya kita juga ngerti kalo Allah lah yang bisa menolong kita. Makanya Islam mengajarkan agar kita berdoa. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah : 186)
Lalu gimana caranya biar kita doa kita terkabul? Berikut beberapa kiat agar do’a kita terkabul.

1. Ikhlas
Keikhlasan merupakan poros semua amalan dan ibadah, termasuk dalam berdoa.  Doa orang yang ikhlas, akan lebih didengar dan diperhatikan oleh Allah. Allah Subhanahu wa ta’alla berfirman,
ادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
“ Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Ghafir : 14).
Dari Abdurrahman bin Yazid bahwa dia berkata, “Ar-Rabii’ datang kepada ‘Alqamah pada hari jumat dan jika saya tidak ada dia akan memberikan kabar kepada saya, lalu ‘Alqamah bertemu dengan saya dan berkata, ‘Bagaimana pendapatmu tentang apa yang dibawa oleh Rabii’?’ Dia menjawab, ‘Berapa banyak orang yang berdoa tetapi tidak dikabulkan? Karena Allah tidak menerima kecuali doa yang ikhlas.’ Saya berkata, ‘Bukankah itu telah dikatakannya?’ Dia berkata, ‘Abdullah mengatakan bahwa Allah tidak mendengar doa seseorang yang berdoa karena sum’ah, riya’, dan main-main, tetapi Allah menerima doa orang yang berdoa dengan ikhlas dari lubuk hatinya.” (HR. Bukhari)

2. Tidak berdoa untuk sesuatu yang dosa dan memutus silaturahim
Dari Abu Said, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ « اللَّهُ أَكْثَرُ »
“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do'a-do'a kalian.” (HR. Ahmad, derajat hasan)
Kata Syaikh Al-Mubarakfuri yang dimaksud “tidak berdoa untuk sesuatu yang berdosa” artinya berdoa untuk kemaksiatan seperti, “Ya Allah, takdirkan aku untuk bisa membunuh si fulan”, sementara si fulan itu tidak berhak dibunuh atau “Ya Allah, berilah aku rizki untuk bisa minum khamr”. Atau berdoa untuk memutus silaturahim. Suatu contoh, “Ya Allah, jauhkanlah aku dari bapak dan ibuku serta saudara-saudaraku”. Doa tersebut merupakan bentuk pengkhususan terhadap yang umum. Imam Al-Jazri menjelaskan bahwa memutus silaturahim bisa berupa tidak saling menyapa, saling menghalangi, dan tidak berbuat baik dengan semua kerabat dan keluarga.

3. Hendaknya makanan dan pakaian dari yang halal dan bagus
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menyebutkan, “ Seorang lelaki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat tangan ke langit tinggi-tinggi dan berdoa, ‘Ya Rabbi, ya Rabbi sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimanakah doanya bisa terkabulkan ?” (HR. Muslim)
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud lama bepergian dalam rangka beribadah kepada Allah seperti haji, ziarah, silaturahim dan yang lainnya. Wuzzz….ngeri kan. Yang bepergian untuk kebaikan aja bisa ditolak, apalagi yang berbuat maksiat. Makanya jaga diri dari makanan, minuman, pakaian haram serta jauhi perbuatan yang tidak disukai Allah.

4. Tidak tergesa-gesa dalam menunggu terkabulnya doa
Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Akan dikabulkan permintaan seseorang di antara kamu selagi tidak tergesa-gesa, yaitu ia mengatakan, ‘Saya telah berdoa tetapi belum dikabulkan’.” (Mutaffaqun ‘alaih)
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Yang dimaksud dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Saya berdoa tetapi tidak dikabulkan’, yaitu seseorang bosan berdoa lalu meninggalkannya, seakan-akan mengungkit-ungkit dalam doanya atau mungkin dia berdoa dengan baik sesuai dengan syaratnya, tetapi bersikap bakhil dalam doanya dan menyangka Allah tidak mampu mengabulkan doanya, padahal Allah adalah Dzat Yang Maha Mengabulkan doa dan tidak pernah habis pemberian-Nya.”
Syaikh Al-Mubarafakturi menjelaskan bahwa Imam Al-Madzhari berkata, “Barangsiapa yang bosan dalam berdoa, maka doanya tidak terkabulkan sebab doa adalah ibadah, baik dikabulkan atau tidak, seharusnya seseorang tidak boleh bosan beribadah. Tertundanya permohonan boleh jadi belum waktunya doa itu dikabulkan karena segala sesuatu telah ditetapkan waktu terjadinya. Sehingga, segala sesuatu yang belum waktunya tidak akan mungkin terjadi.
Atau boleh jadi permohonan tersebut tidak terkabulkan dengan tujuan Allah mengganti doa tersebut dengan pahala, atau boleh jadi doa tersebut tertunda pengabulannya agar orang tersebut rajin berdoa. Sebab Allah sangat senang terhada orang yang rajin berdoa, karena doa memperlihatkan sikap yang rendah diri, menyerah, dan merasa membutuhkan Allah. Orang yang sering mengetuk pintu akan segera dibukakan pintu dan begitu pula orang yang sering berdoa akan dikabulkan doanya.
Allah berfirman,
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Ku perkenankan bagimu.” (QS. Ghafir : 60)
Banyak orang yang berdoa tetapi tidak dikabulkan, seandainya ayat tersebut sesuai dengan zhahirnya (tekstualnya) pasti tidak mungkin doa tersebut ditolak. So, lalu apa maksudnya ?
Dari ‘Ubadah bin Shamit, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا عَلَى الأَرْضِ مُسْلِمٌ يَدْعُو اللَّهَ بِدَعْوَةٍ إِلاَّ آتَاهُ اللَّهُ إِيَّاهَا أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا
“Tidak ada seorang muslim di dunia berdoa memohon suatu permohonan melainkan Allah pasti akan mengabulkan atau menghilangkan daripadanya keburukan yang semisal.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih)

5. Hendaknya berdoa dengan hati yang khusyu’ dan yakin doanya pasti akan dikabulkan
Allah Ta’ala berfirman,
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً
“Berdoalah kepada Rabb-mu dengan tadharru (berendah diri) dan suara yang lembut” (QS Al-A’raf : 55)
Dari Abdullah bin ‘Amr, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hati itu laksana wadah dan sebagian wadah ada yang lebih besar dari yang lainnya. Apabila kalian memohon kepada Allah  maka mohonlah kepada-Nya sedangkan kamu merasa yakin akan dikabulkan, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR Ahmad)
Syaikh Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan kalian yakin akan dikabulkan” adalah pengharusan. Artinya, berdoalah sementara kalian bersikap dengan sifat yang menjadi sebab terkabulnya doa. Imam Al-Madzhari menjelaskan bahwa hendaknya orang yang berdoa merasa yakin bahwa Allah akan mengabulkan doanya.
Sedangkan yang dimaksud “hati yang lalai” adalah hati yang berpaling dari Allah atau berpaling dari yang dimintanya.
Seandainya ada yang mengatakan, sebagian ada doa yang terkabul dan sebagian yang tidak maka bagaimana kita bisa yakin? Jawabannya, bahwa orang yang berdoa pasti akan dikabulkan dan permintaannya pasti akan diberikan kecuali bila dalam catatan azali Allah doa tersebut tidak dikabulkan. Akan tetapi, mungkin dia akan dihindarkan dari musibah semisalnya, diganti pahala, atau ditinggakan derajat di akhirat.

6. Memanfaatkan waktu yang utama untuk berdoa
Allah menciptakan waktu dengan kemuliaan yang berbeda-beda. Itulah sebabnya Allah bersumpah atas keberadaan jenis waktu yang berbeda. Ada waktu demi masa, demi waktu dhuha, demi malam, demi siang, dsb. Adapun waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa di antaranya :
a.       Sepertiga malam terakhir
b.      Tatkala berbuka puasa bagi orang yang berpuasa
c.       Setiap selesai shalat fardhu
d.      Pada saat perang berkecamuk
e.      Sesaat pada hari jumat
f.        Pada waktu bangun tidur pada malam hari bagi orang yang sebelum tidur dalam keadaan suci dan berdzikir pada Allah
g.       Di antara adzan dan iqomah
h.      Pada waktu sujud dalam shalat
i.         Saat sedang turun hujan
j.        Saat ajal tiba
k.       Malam lailatul qadr
l.         Pada hari arafah

The last, janganlah bersedih bila doa kita belum terkabul. Yang pasti jangan menyerah untuk selalu berdoa. Yakinlah bahwa skenario Allah tak pernah salah.

Remajaislam.com (Bung_Iwul)

Kamis, 04 April 2013

Amanah??? Janji??? Sudah Tertulis Jelas di Al-quran

Grubrak... terhenyat dari rehat sementara, aku kanget melihat jam sudah menunjukkan pukul 03.30 dini hari, Astagfirullah belum lail, nasi……………..ya nasi untuk acara pagi ini masih kurang 2 wadah magic com yang belum kami masak. Kusegerakan kekamar mandi mengambil air wudhu dan bermunajah kepada sang pemilik malam. Bersujud selesai maka langsung ku segerakan memasak nasi yang masih kurang. Alhamdulillah selesai sebelum waktu keberangkatan ke tempat tujuan.

“Ok sekarang waktunya kita sharing” lanjut moderator acara hari ini.
“Siapa yang mau Tanya terkait organisasi ini? Tanya ketua kepada seluruh pengurus
Tiga orang pun bertanya dengan pertanyaan yang berbeda-beda. Sayang hanya dibuka untuk tiga penanya padahal banyak pengurus baru yang ingin bertanya terkait organisasi itu.
“Apapun pertanyaan itu nanti bisa kalian tanyaan diluar forum ini” Tampis ketua agar pengurus tidak kecewa.

Allahuakbar allahuakbar…..,terdengar adzan berkumandang, maka kami segerakan berhanjak ke laut untuk mengambil air wudhu. Pengalaman untuk kesekian kalinya harus berwudhu dengan air  yang menjadi bahan dasar garam dapur itu. Gerimis datang, tapi kami tetap bersemangat untuk wudhu dengan air laut. Kami yang mengira hanya gerimis lewat ternyata ketika sedang shalat gerimis menjadi hujan. Lengkaplah rasa syukurku ke pada Rabb pemberi hujan, nikmat yang luar biasa (bicaraku dalam hati setelah selesai shalat). Hamparan air yang terlihat indah ditambah indahnya air yang turun dari atas langit membuat aku lupa dengan hidung yang sudah seperti tomat, mata yang berbinar-binar, dan punggung seperti mengangkat batu.

Ayo buat setengah lingkaran” Perintah instruktur game kepada seluruh peserta
“kanan, kiri,maju, mundur,” berisik kami mengatur perintah instruktur game
“Kita sekarang main game jiep ya, ada yang tau permainan ini?” perintah dan Tanya instruktur
“tahu…,gak tahu….” Teriak dari masing-masing peserta
“sebelumnya, bagi peserta yang merasa sedang tidak enak badan silahkan menuju pendopo!” perintah instruktur berkaos merah
“Ayo…sekarang ja, nanti ini pasti mau dibuat kelompok mana ujan lagi” ajakku pada seorang teman untuk menyingkir, mengingat kami harus ada di asarama sebelum pukul 14.00
“0k, ayo ke pendopo sekarang” jawab temanku

Kupikir sebelum mengegas kuda mesin, aku harus menrtansfer sesuatu kepada seorang  pengurus. Bercakap-cakap selesai maka aku dan temanku  segera melaju menyusuri  perjalanan pulang.

Dring…dring…, sms dari seorang teman “Kamu tu gak sah sok kuat dech, disana hujan kan? Gimana mau mikirin orang, mikirin diri sendiri aja gak bisa” omel seorang teman lewat pesan singkat itu.

Pesan itu mengingatkan pada nasehat untuk seorang teman, ketika di sms yang hampir mirip, dia membalas “Kalau ana gak datang berarti ana gak amanah ukh”. Pertanyaan hampir mirip tapi jawaban berbeda. Kuketik balasan yang berisi “Kalau ana gak dateng berarti ana ingkar janji ukh”.
Dua balasan sms yang menjelaskan ayat tentang amanah dan janji. Bahwa keduanya akan dimintai pertanggungjawaban oleh  Allah S.W.T

1. Surat Al-Anfal Ayat 27
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.

 2. Surat Al-Muminun Ayat 8
Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.

3. Surat Al-Isra`: 34
"Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.”

4. An-Najm: 37
“Dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji.”

Ayat diatas berisi tentang pentingnya menjaga amanah atau janji dan larangan untuk khianat. Secara bahasa amanah bermakna al-wafa (memenuhi/menyampaikan) dan wadiah (titipan) sedangkan secara definisi amanah berarti memenuhi apa yang dititipkankan kepadanya. Sedangkan khianat artinya mengingkari tanggung jawab, berbuat tidak setia, atau melanggar janji yang telah dia buat. Secara luas khianat berarti mengingkari tanggung jawab yang telah dipercayakan terhadap dirinya, baik datangnya dari orang lain maupun dari Allah SWT. Amanah/janji dan khianat adalah kata-kata yang saling berlawanan makna dan salig baerkaitan. Dengan tegas ALLAH SWT melarang orang-orang yang beriman untuk khianat terhadap amanat dari ALLAH SWT dan Rasulullah SAW, yang berarti larangan untuk lalai terhadap segala perintah dan kewajiban sebagai seorang muslim, seperti sholat yang merupakan amanah dari Nya untuk dijalankan sesuai syariat. Amanah dari sesama manusia seperti amanah jabatan seorang.

Dan masih banyak lagi ayat yang membahas tentang amanah dan janji. Ini juga ada hadist

 1. كلكم راع و كلكم مسؤول عن رعيته (رواه مسلم) Artinya:
''Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.'' (H.R. Muslim). 

 2. ا أسند الأمر إلى غير أهله فانتظر الساعة (رواه البخاري)
“Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya. Dikatakan, bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?. Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya”. (H.R. Bukhari).

3.  “Tanda-tanda munafik itu ada tiga: apabila bicara, dia dusta; apabila berjanji, dia ingkari; dan apabila dipercaya (amanah), dia berkhianat". (Hadist Sohih).

Jadi bahan renungkan kita sahabat, tentang amanah yang sedang diemban dan janji yang kita ucapakan. Semoga kita termasuk orang-orang yang amanah dan menepati janji. (aamiin)

By: Desnidasari_sekbid Kemuslimahan 1213

Rabu, 03 April 2013

Hari Belum Terlarut Malam

Hari belum terlarut malam, bulanpun belum sepenuhnya keluar, tapi sepasang bola mata itu tampak telah begitu lelah. Sepasang mata itu tampaknya sudah sangat tertatih-tatih untuk menjaga agar tetap terjaga. Kelopak itu senantiasa tertarik jatuh meskipun ia berusaha mengangkatnya kembali.

Dalam pandangan yang kian menyempit itulah teringat akan wajah-wajah saudara. Ukhuwah yang melemah dan keakraban yang merapuh. Bukan karena waktu yang menyibukkan hingga sedikit waktu perjumpaan, tapi keadaan iman yang sedang mengerdil. Bahkan salam dan perjumpaan itu terasa menyakitkan.

Senin, 01 April 2013

Itsar dan kasih sayang sahabat Rasulullah saw

Kata itsar sering terdengar di telinga kita, nah apakah arti  kata itsar dan kenapa kita harus itsar kepada saudara kita? Sebelum membahas banyak tentang itsar, kita perlu tahu terlebih dahulu tentang tahapan-tahapan menuju itsar. Itsar merupakan tingkatan tertinggi dalam ukhuwah islamiah. Ukhuwah akan kokoh dan erat apabila dilandasi dengan aqidah, ukhuwah seperti ini akan senantiasa dijaga dan dilindungi Allah swt sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Ali-Imran ayat 103 :

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada ditepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”(Q.S. Ali-Imran : 103).

Senin, 31 Oktober 2011

5 Waktu Yang Membahagiakan

Banyak umat Islam yang belum mampu merasakan lezatnya beribadah sholat kepada Allah, dan banyak pula umat Islam yang masih sering meninggalkan ibadah sholat wajib 5 waktu, dan bahkan masih banyak sekali orang yang mengaku beragama Islam tapi tidak peduli dengan masalah kewajiban mengerjakan sholat (ih serem! masak ngaku islam tapi kok gk shalat). Padahal begitu besar manfaat dan pahala sholat bagi seorang umat manusia.
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 29:45).

Mari kita sejenak pikirkan, ketika kita tertimpa masalah, kita selalu mencari pertolongan kamana-mana. Namun kita sering lupa untuk meminta petolongan kepada Allah melalui shalat. Shalat adalah bukti ketundukan kita kepada Allah SWT, shalat adalah do'a, shalat adalah ibadah yang bukan hanya memuji Allah SWT tetapi juga berisi permintaan-permintaan kita kepada Allah SWT.

“Rasakanlah kerendahan saat engkau ruku’ dalam shalat, karena engkau meletakkan jiwamu pada asalnya, yakni tanah. Mengembalikan cabang kepokoknya dengan cara bersujud ketanah yang darinya engkau ciptakan. (Iman Al Ghazali).

Alangkah indahnya dalam sujud dan ruku' kita mensucikan dan memuji Allah sebagai simbol ketundukan dan ketaatan kita kepada Allah SWT. Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, jangankan kepada makhluq-Nya yang tunduk dan taat, bahkan kepada orang-orang yang membangkang pun dengan segala kesombongannya, Allah masih tetapi memberikan nikmat tiada tara.
Coba kita kembali mengingat perjalan Rasulullah, Saat Rasulullah saw dan para sahabat hijrah, mereka meninggalkan kampung halaman, meninggalkan harta benda, dan meninggalkan keluarga. Mereka mengambil resiko untuk meraih sesuatu yang lebih besar.

Mereka tahu, masalah bisa saja muncul baik saat hijrah dan setelahnya. Tetapi mereka tetap menjalaninya, karena mereka yakin masalah yang akan ditemui, Allah SWT sudah menyiapkan solusinya. Rasulullah saw selalu menjadikan shalat sebagai solusi berbagai masalah seperti yang kita baca dalam berbagai riwayat. Hudzaifa bin Al Yaman menceritakan, “Jika Rasulullah saw ditimpa sebuah kesulitan beliau bersegera melaksanakan shalat.”

Begitu juga yang diriwayatkan oleh Haritsah bin Madhrib, “Aku mendengar Ali ra. berkata, 'Kamu melihat kami dan segala keadaan kami pada malam perang Badar kecuali Rasulullah saw, beliau mengerjakan shalat dan berdo'a hingga datang waktu subuh.'”

Sekarang kembali ke diri kita,, selama ini dengan siapa kita bersahabat?  Mencari seorang sahabat Bukanlah hal mudah bagi kita. Lalu sahabat seperti apakah yang kita cari?


Selalu ada dalam suka dan duka?  Selalu setia menemani dalam berbagai keadaan? atau selalu menyiapkan segala hal untuk menolong kita dalam berbagai kesulitan? Dan taukah kita? Sesungguhnya tak ada satupun sahabat yang layak dikatakan sahabat sejati selain Shalat kita. Hanya shalat kitalah yang setia mengisi kedamaian dalam lembar-lembar hidup kita, pengusir kepenatan kala duka datang, pengisi syukur kala suka singgah.

Setia melindungi dari berbagai keburukan dunia dan kengerian siksa akhirat. Setia menerangi kubur kita kala kita sendirian di dalam tanah yang gelap. Namun, akankah  semua shalat yang terlaksana setiap hari oleh kita adalah benar-benar sahabat sejati kita ?
Telah berapa banyak shalat yang tak bersahabat dengan kita, sehingga ia berkata “Semoga Allah menelantarkan mu sebagaimana kamu menelantarkan ku”? Sungguh malang jika kebanyakan shalat kita berkata seperti itu kepada kita.

Marilah kita benar-benar bersahabat dengan shalat agar kita bukan termasuk orang yang merugi.

Kamis, 26 Mei 2011

Kejujuran Iblis Kepada Nabi Muhammad SAW

undefined
Sebuah Hadits Rosul yang diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal R.A dari Ibnu Abbas R.A keduanya berkata : ”Kami bersama Rosululloh SAW berada dirumah seorang sahabat dari golongan Anshor (di Madinah) dimana para sahabat sedang berkumpul dirumah tersebut.
“Ketika kami sedang bersama Rosululloh SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba – tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah:
“Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk..? Sebab kalian akan membutuhkanku. “
Rosululloh bersabda:”Tahukah kalian siapa yang memanggil?”
Kami menjawab: “Alloh dan RosulNya yang lebih mengetahui.”
Beliau melanjutkan, “Itu Iblis, laknat Alloh bersamanya.”Umar bin Khattab berkata: “izinkan aku membunuhnya wahai Rosululloh” Nabi menahannya: “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Alloh SWT memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Alloh untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.” Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi. Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad,… . salam untukmu para hadirin…” Rosululloh SAW lalu menjawab: Salam hanya milik Alloh SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?” Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.” ” Siapa yang memaksamu?” Seorang malaikat dari utusan Alloh telah mendatangiku dan berkata: “Alloh SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri. Beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. jawabalah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Alloh, andai kau berdusta satu kali saja, maka Alloh akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.”
Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”

Selasa, 08 Maret 2011

Posisi Kita Sebagai Teman

Setiap kita pasti memiliki teman atau bahkan sahabat. Namun, apa sebenarnya teman? Teman sejati saat ini teramat langka. Mengapa? Karena saat ini banyak mereka atau bahkan diri kita menganggap diri kita teman yang baik untuk teman kita, namun ternyata tidak. Kita kadang berada di samping mereka, kita tidak memberikan perhatian kepada mereka. Hanya pada saat kita membutuhkan meraka saja, apakah kita berada di sampingnya saat mereka sedang memiliki masalah. Sebuah renungan untuk kita masing-masing…

Jumat, 18 Februari 2011

Kewajiban Kita Terhadap Rasulullah SAW

Beriman kepada Rasulullah saw. merupakan salah satu konsekuensi dari pemahaman bersyahadah: wa asyhadu ana muhammada ar-rasulallah, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul Allah. Dan, kesaksian kita itu akan jujur dan istiqamah jika diwujudkan menjadi sikap. Adapun di antara kewajiban kepada Rasulullah saw. adalah sebagai berikut:
1. Beriman kepada Rasulullah saw.
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُون