Kamis, 29 Januari 2009

PETANI Ibarat Pekerja Dakwah


Di sebuah tepian ladang, seorang anak memperhatikan ayahnya yang terus saja bekerja. Sang ayah terlihat menggemburkan tanah dengan cangkul, membaurkan pupuk di sekitar tanaman, dan membabat tumbuhan liar di sekitar ladang. Sesekali, sang ayah harus mencabut ilalang. Anak itu terus memperhatikan dengan heran.

“Kenapa ayah melakukan itu? Bukankah ilalang itu masih terlalu kecil untuk dicabut?” teriak si anak sambil berjalan mendekati ayahnya. Ia membawakan air yang baru saja ia tuang ke sebuah gelas kayu. Sambil tangan kiri menghapus peluh, tangan kanan ayah anak itu meraih gelas dari tangan kecil anaknya.

“Anakku, inilah pekerjaan petani. Kelak kamu akan tahu,” jawab sang ayah singkat. Setelah minum, petani itu memanggul cangkul di dekatnya. “Hari sudah sore! Mari kita pulang, Nak!” ucap sang ayah sambil meraih pundak anak lelakinya itu.

Sepulang dari ladang, petani itu sakit. Hingga beberapa hari, ia dan anaknya tidak bisa ke ladang yang jaraknya sekitar satu jam berjalan kaki, naik dan turun. Petani itu tampak gelisah. Ia seperti ingin memaksakan diri berangkat ke ladang.

“Ayah kenapa? Bukankah waktu itu ladangnya sudah ayah bersihkan, dipupuk, dan dipagar,” suara anak itu sambil membantu ayahnya bangun dari tempat tidur. “Itu belum cukup, Nak. Kelak kamu akan tahu!” ucap si petani sambil tertatih-tatih keluar rumah. Ia mengajak anaknya pergi ke ladang.

Setibanya di ladang, anak itu terperangah. Ia seperti tidak percaya apa yang dilihat. Hampir seluruh ladang ditutupi ilalang. Cabai dan tomat yang tumbuh mulai membusuk. Daun-daunnya pun dihinggapi ulat.

“Anakku, inilah yang ayah maksud tugas petani. Kini kamu paham, kenapa ayah gelisah. Karena seorang petani tidak cukup hanya menanam, menebar pupuk, dan memagar tanamannya. Tapi, ia juga harus merawat. Tiap hari, tiap saat!” jelas sang ayah sambil menatap sang anak yang masih terkesima dengan ilalang di sekitar ladang ayahnya.
**

Mereka yang terpilih Allah swt. sebagai pegiat dakwah, sadar betul kalau tugasnya begitu penting, mulia, dan sekaligus berat. Berat karena tugas itu tidak cukup sekadar menanam kesadaran, menebar sarana dakwah, dan memagari ladang dakwah dari terjangan angin dan hewan perusak. Lebih dari itu, ia harus merawat.

Seperti halnya ladang tanaman, ladang dakwah bukan benda mati yang akan lurus-lurus saja kalau ditinggal pergi. Tanahnya hidup. Udara di sekitar pun dinamis. Yang akan tumbuh bukan saja tanaman yang diinginkan, tanaman liar seperti ilalang pun akan tumbuh subur merebut energi kesuburan ladang. Belum lagi telur-telur hama yang hinggap ke daun tanaman setelah berterbangan digiring angin.

Pegiat dakwah persis seperti seorang petani terhadap tanamannya. Ia sebenarnya sedang berlomba dengan ilalang dan hama. Kalau ia tidak sempat merawat, ilalang dan hama yang akan ambil alih. Kelak, jangan kecewa kalau buah-buah tanaman yang akan dipetik sudah lebih dulu membusuk. (mnuh)

Senin, 29 September 2008

Rencana Allah yang teramat indah

Desi Nuraeni
(Sekretaris Bidang Kaderisasi FOSI FP periode 2008-2009)


Allah telah merencanakan semua hal yang akan terjadi pada diri kita, lingkungan kita, Negara kita dan bahkan dunia yang kita pijak saat ini, baik yang ada di bumi, laut dan bahkan udara. Sebagian orang berfikir bahwasanya rencana Allah itu teramat rumit untuk dipahami dan terkadang orang-orang tersebut kurang dapat menerima hal yang telah direncanakan dan dikehendaki oleh Allah. Akibatnya akan tumbuh benih-benih penyakit hati pada diri mereka. Dan ketenangan hati yang diharapkan pun tak kunjung datang.

Sebaliknya orang yang berfikir bahwa rencana Allah itu sangat indah, dan menerima atau legowo dengan apa yang telah direncanakan dan dikehendaki oleh Allah maka ketenangan hati akan muncul pada dirinya. Hal ini dapat disebabkan oleh keikhlasan untuk menerima ujian-ujian yang telah diberikan oleh Nya. Sesulit apapun ujian yang diterima asalkan ikhlas, berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan ujiannya,dan tak lupa berdoa (meminta pertolongan dari Allah). Maka Insyallah ujian atau dapat disebut juga sebagian kecil dari rencana Allah akan terasa ringan dan indah untuk dinikmati.

Sedikit pengalaman tentang Rencana Allah.Aku benar-benar merasakan indahnya rencana Allah di waktu yang tak kusadari. Salah satu ujian atau cobaan saat itu adalah terasa penat nya kehidupan ini. Baik kehidupan yang diselimuti dengan kuliah yang padat, tugas yang menumpuk, kondisi keluarga yang kurang baik, pekerjaan rumah yang tak terkendali hingga organisasi yang banyak menyita waktu. Semua itu membuat tubuh kecil ku terasa ambruk. Namun ditengah kepanatan itu ada hal-hal kecil yang menyadarkan ku bahwa Allah memiliki maksud dari semua ini. Ujian ini telah memberikan banyak manfaat yang baik untuk sekarang ataupun masa depan. Dari sini ternyata aku terlebih dahulu dapat mempelajari bagaimana memanaje waktu, bagaimana hidup berkeluarga, bagaimana dapat menjaga perasaan orang, dll. Ini semua membantu ku dalam mempersiapkan kehidupan masa yang akan datang. Oleh sebab tetap berkhusnuzonlah, sebab Allah akan selalu memberikan yang terbaik untuk kita.

Dibalik cobaan-cobaan yang Allah berikan pada diri kita ternyata Allah sudah merencanakan sesuatu yang indah jika kita dapat melewati cobaan-cobaan tersebut. Saat ini mungkin kita sedang di uji tapi suatu saat nanti kita akan merasakan indahnya hasil dari ujian-ujian yang sudah kita lewati dengan ikhlas. Saran ane, "Jangan pernah putus asa dalam menghadapi segala uji". OptimisLah!! Bahwa bantuan Allah pasti akan datang di waktu yang tidak kita duga.

Senin, 08 September 2008

Membangun Peradaban

Muhammad Luthfie
(Alumni FOSI FP)


Pada kenyataannya, untuk membangun peradaban, kita memang harus berpikir lebih besar, menembus tempurung-tempurung otak kita, menciptakan sesuatu yang belum pernah terpikirkan oleh orang lain. Sangat tidak produktif apabila detik-detik yang mahal ini habis untuk membangun pepesan kosong kehidupan, lenyap untuk hal-hal yang tidak substansi.

Pada saatnya, orang-orang luar biasa akan tampak bersinar, jelas karya-karyanya, terpancar keikhlasannya. Orang-orang luar biasa berhasil menutup kesalahan-kesalahan besarnya dengan kebermanfaatan yang jauh lebih besar untuk dunia. Nafasnya yang tersisa diniatkan untuk hidup di garis perjuangan, sampai kematian mulia menjemputnya.

Jangan sia-siakan nyawa yang telah Allah swt berikan pada kita. Hiduplah dengan ruh semangat yang bergelora, jadikan setiap detik yang kau miliki menjadi butiran karya, jadikan setiap kata yang kau lepas dari pikiranmu sesuatu yang mampu mengubah kearah kebenaran, jadikan setiap hembusan nafasmu senantiasa menyebut nama Penciptamu. Bergeraklah terus, Allah swt pasti menilai setiap pengorbanan yang kita berikan untuk membangun peradaban.

Akan tiba masanya, para pembuat sejarah besar dunia akan berpandangan dan berkomunikasi dalam keheningan batinnya, mereka saling mengenal watak sesama pembuat sejarah, mereka berkompetisi memakmurkan bumi, mereka hanya hidup satu kali namun memberikan manfaat yang tak bertepi bagi dunia.

Dimanakah manusia-manusia ikhlas itu? Mereka yang berkarya tanpa pamrih, hanya Allah swt tujuannya. Dimanakah para pemberani itu? Mereka yang mengukir sejarah dengan keberaniannya untuk terus menggunakan sisa usianya dengan pengorbanan tulus untuk membangun peradaban.

Semua bergerak, bertahap, dan pasti. Orang-orang yang tidak berbuat apa-apa hanya akan meninggalkan batu nisan di kuburannya, mereka tidak pernah berkarya, oleh karena itu tak ada pula yang melanjutkan pikiran-pikirannya. Orang-orang yang hidup dalam pengorbanan yang dahsyat untuk menghasilkan suatu karya akan mendapatkan keabadian yang tak kalah dahsyatnya, abadi gagasan mutiaranya di bumi dan abadi kenikmatannya di surga. Ada dua modal penting untuk menjadi pembuat sejarah besar, yakni keikhlasan dan keberanian.

Rabu, 16 Juli 2008

Sahabat

Desi Nuraini
(Sekretaris Bidang Kaderisasi FOSI FP periode 2008-2009)




Sahabat,
Sadarilah bahwa jalan Dakwah Mulia yang disertai dengan Jihad Fisabilillah ini,
Akan penuh dengan onak dan duri.

Sahabat,
Jadilah panah-panah tang terbujur,
Yang siap di lepaskan dari bujur,
Tuju sasaran, YAHUDI LAKNATULLAH'ALAIHIM.

Sahabat,
Jadilah pedang yang senantiasa terhunus,
Yang siap terayun menebas musuh, YAHUDI LAKNATULLAH'ALAIHIM.

Sahabat,
Jadilah tombak-tombak yang berjajar,
Yang siap dilontarkan dan menghujam,
Menembus dada YAHUDI LAKNATULLAH'ALAIHIM,
Luluhlantakkan keangkuhan mereka.

Sahabat,
Jadilah butir-butir peluru,
Yang siap di tembakkan dan melesat maju,
Koyak dan tumbangkan kedzaliman tanpa rasa malu.

Sahabat,
Jadilah mata pena yang tajam,
Yang siap menuliskan kebanaran,
Janganlah ragu untuk membela keadilan.

Sahabat,
Jadilah pisau belati yang selalu tajam,
Bak kesabaran yang tak pernah padam,
'Tuk arungi dakwah ini jalan yang panjang dan berliku.

(inspiration from Izzis)

Selasa, 11 Maret 2008

Kisah Petani-Petani di Surga

Abu Abdilbarr Sugeng Priyadi Al-Barbasy
(Pengamat Islam dan Pertanian)


Menanam dalam sekejap mata bisa dipanen


Bagaimanakah keadaan para petani di sawah-sawah mereka? Tentu kita bisa melihat mereka adalah pekerja keras. Mereka banting tulang, mengeras keringat dalam melakukan kegiatan pertanian seperti mengolah sawah berupa membajak sawah, membuat pematang dan parit. Juga kegiatan menanam berupa menyemai benih dan menanam bibit. Kemudian setelah tanaman tumbuh juga perlu dilakukan kerja keras dalam merawat dan memelihara tanaman baik berupa penanggulangan gulma dengan dilakukan penyiangan ataupun penyemprotan herbisida ataupun penanggulangan hama penyakit dengan melakukan penyemprotan insektisida dan fungisida. Semua kegiatan tersebut dilakukan dengan susah payah, kerja keras dan penuh pengorbanan. Belum lagi setelah dipanen, beberapa tanaman juga perlu diolah untuk bisa dikonsumsi dengan beberapa penanganan pasca panen.

Lalu bagaimanakah dengan keadaan petani-petani di surga?. Tentu kita telah mengetahui dan mengimani bahwa negeri penuh kenikmatan, kenyamanan dan kebahagiaan yang di dalamnya tidak ada kerepotan, kepayahan, jerih payah dan kesengsaraan. Kalau di surga ada orang yang bercocok tanam, pastinya tidak seperti di dunia dong yang penuh dengan kendala sebagaimana gambaran yang tersebut di atas.

Sesungguhnya para petani di surga, mereka setelah menabur benih kemudian sekejap mata mereka bisa memanennya. Sangat menkjubkan dan mudah bukan?. Ada hadits yang menerangkan tentang hal ini yaitu:

Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ’anhu bahwasanya Nabi shollallohu ’alaihi wa sallam pada suatu hari berbincang dengan para sahabat sedang di sisi beliau ada orang badui. Beliau berkata: ’Bahwasanya ada salah seorang penghuni surga yang meminta izin kepada Robb-Nya untuk bercocok tanam , maka Alloh berkata kepadanya: ”Bukankah kamu telah memperoleh apa yang kamu kehendaki?” Dia menjawab: ”Betul, akan tetapi aku suka bercocok tanam.” Rosululloh kemudian bersabda: ’Kemudian penghuni surga itu menaburkan benih, dalam sekejap mata dihadapannya benih itu telah menjadi tanaman yang matang dan siap dipanen. Tanaman tersebut terkumpul seperti gunung. Lalu Alloh berkata: ”Ambillah wahai anak adam, sesungguhnya tidak ada yang bisa membuatmu kenyang”. Orang badui itu lalu bekomentar: ”Demi Alloh, aku tidak mendapati petani tersebut kecuali orang Quraisy atau Anshor karena mereka adalah orang-orang yang suka bercocok tanam.” Mendengarkan perkataan tersebut, Nabi sholallohu ’alaihi wa sallam tertawa.”Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori.

Ibnul Qoyyim rohimahulloh menjelaskan: ”Pada intinya hadits di atas menunjukkan bahwa di surga terdapat tanaman dan bibitnya juga berasal dari surga. Kalau ada orang yang bertanya, ’kenapa orang tersebut meminta izin kepada Robb-nya untuk menanam kemudian Alloh menjelaskan padanya bahwa orang tersebut tidak perlu menanam lagi?’ Jawabnya: bahwa orang tersebut meminta izin kepada Alloh untuk menanam tanaman dengan tangannya sendiri. Padahal Alloh sebenarnya tidak memerlukan orang itu bercocok tanam dan juga Alloh telah menyukupi semua kebutahan orang tersebut.”

Beliau juga menegaskan kisah tadi seraya berkata: ”Ibrohim bin Hakam meriwayatkan dari ayahnya, dari Ikrimah, dia berkata: ’Seorang penghuni surga bergumam dalam hatinya, ’Bagaimana ya, kalau sekiranya Alloh mengizinkan aku menanam tanaman di surga’. Orang tersebut tidak tahu kalau para malaikat sedang berdiri di pintu-pintu istananya. Para malaikat pun berkata kepadanya: ’Salam sejahtera untukmu, Robb-mu berfirman kepadamu bahwa engkau bergumam dalam hatimu ingin menanam tanaman di surga. Aku mengetahuinya. Sekarang Alloh mengutusku ke mari untuk mengantarkan benih-benih tanaman yang engkau inginka.’Alloh berkata: ’Tanamlah!’ Tidak lama kemudian tanaman itu tumbuh tinggi setinggi gunung. Alloh di atas arsy-Nya berkata kepadanya: ’Makanlah, wahai anak adam, sesungguhnya anak adam tidak pernah merasa kenyang’ Wallohu a’lam.”