Senin, 13 April 2009

Duh Jaga Hijab Dong...



Hudzaifah.org - “Dia ikhwan ya? Tapi kok kalau bicara sama akhwat dekat sekali???,” tanya seorang akhwat kepada temannya karena ia sering melihat seorang aktivis rohis yang bila berbicara dengan lawan jenis, sangat dekat posisi tubuhnya.

“Mbak, akhwat yang itu sudah menikah? Kok akrab sekali sama ikhwan itu?,” tanya sang mad’u kepada murabbinya karena ia sering melihat dua aktivis rohis itu kemana-mana selalu bersama sehingga terlihat seperti pasangan yang sudah menikah.

“Duh… ngeri, lihat itu… ikhwan-akhwat berbicaranya sangat dekat……,” ujar seorang akhwat kepada juniornya, dengan wajah resah, ketika melihat ikhwan-akhwat di depan masjid yang tak jauh beda seperti orang berpacaran.

“Si fulan itu ikhwan bukan yah? Kok kelakuannya begitu sama akhwat?,” tanya seorang akhwat penuh keheranan.

Demikianlah kejadian yang sering dipertanyakan. Pelanggaran batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat masih saja terjadi dan hal itu bisa disebabkan karena:
1. Belum mengetahui batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat.
2. Sudah mengetahui, namun belum memahami.
3. Sudah mengetahui namun tidak mau mengamalkan.
4. Sudah mengetahui dan memahami, namun tergelincir karena lalai.

Dan bisa jadi kejadian itu disebabkan karena kita masih sibuk menghiasi penampilan luar kita dengan jilbab lebar warna warni atau dengan berjanggut dan celana mengatung, namun kita lupa menghiasi akhlak. Kita sibuk berhiaskan simbol-simbol Islam namun lupa substansi Islam. Kita berkutat menghafal materi Islam namun tidak fokus pada tataran pemahaman dan amal.

Sesungguhnya panggilan ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ adalah panggilan persaudaraan. ‘Ikhwan’ artinya adalah saudara laki-laki, dan ‘akhwat’ adalah saudara perempuan. Namun di ruang lingkup aktivis rohis, ada dikhotomi bahwa gelar itu ditujukan untuk orang-orang yang berjuang menegakkan agama-Nya, yang islamnya shahih, syamil, lurus fikrahnya dan akhlaknya baik. Atau bisa dikonotasikan dengan jamaah. Maka tidak heran bila terkadang dipertanyakan ke-‘ikhwanan’-nya atau ke-‘akhwatan’-nya bila belum bisa menjaga batas-batas pergaulan (hijab) ikhwan-akhwat.

Aktivis sekuler tak lagi segan

Seorang ustadz bercerita bahwa ada aktivis sekuler yang berkata kepadanya, ”Ustadz, dulu saya salut pada orang-orang rohis karena bisa menjaga pergaulan ikhwan-akhwat, namun kini mereka sama saja dengan kami. Kami jadi tak segan lagi.”

Ungkapan aktivis sekuler di atas dapat menohok kita selaku jundi-jundi yang ingin memperjuangkan agama-Nya. Menjaga pergaulan dengan lawan jenis memang bukanlah hal yang mudah karena fitrah laki-laki adalah mencintai wanita dan demikian pula sebaliknya. Hanya dengan keimanan yang kokoh dan mujahadah sajalah yang membuat seseorang dapat istiqomah menjaga batas-batas ini.

Pelanggaran batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat

Berikut ini adalah pelanggaran-pelanggaran yang masih sering terjadi:

1. Pulang Berdua
Usai rapat acara rohis, karena pulang ke arah yang sama maka akhwat pulang bersama di mobil ikhwan. Berdua saja. Dan musik yang diputar masih lagu dari Peterpan pula ataupun lagu-lagu cinta lainnya.

2. Rapat Berhadap-Hadapan
Rapat dengan posisi berhadap-hadapan seperti ini sangatlah ‘cair’ dan rentan akan timbulnya ikhtilath. Alangkah baiknya - bila belum mampu menggunakan hijab - dibuat jarak yang cukup antara ikhwan dan akhwat.

3. Tidak Menundukkan Pandangan (Gadhul Bashar)
Bukankah ada pepatah yang mengatakan, “Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati”. Maka jangan kita ikuti seruan yang mengatakan, ”Ah, tidak perlu gadhul bashar, yang penting kan jaga hati!” Namun, tentu aplikasinya tidak harus dengan cara selalu menunduk ke tanah sampai-sampai menabrak dinding. Mungkin dapat disiasati dengan melihat ujung-ujung jilbab atau mata semu/samping.

4. Duduk/ Jalan Berduaan
Duduk berdua di taman kampus untuk berdiskusi Islam (mungkin). Namun apapun alasannya, bukankah masyarakat kampus tidak ambil pusing dengan apa yang sedang didiskusikan karena yang terlihat di mata mereka adalah aktivis berduaan, titik. Maka menutup pintu fitnah ini adalah langkah terbaik kita.

5. “Men-tek” Untuk Menikah
“Bagaimana, ukh? Tapi nikahnya tiga tahun lagi. Habis, ana takut antum diambil orang.” Sang ikhwan belum lulus kuliah sehingga ‘men-tek’ seorang akhwat untuk menikah karena takut kehilangan, padahal tak jelas juga kapan akan menikahnya. Hal ini sangatlah riskan.

6. Telfon Tidak Urgen
Menelfon dan mengobrol tak tentu arah, yang tak ada nilai urgensinya.

7. SMS Tidak Urgen
Saling berdialog via SMS mengenai hal-hal yang tak ada kaitannya dengan da’wah, sampai-sampai pulsa habis sebelum waktunya.

8. Berbicara Mendayu-Dayu
“Deuu si akhiii, antum bisa aja deh…..” ucap sang akhwat kepada seorang ikhwan sambil tertawa kecil dan terdengar sedikit manja.

9. Bahasa Yang Akrab
Via SMS, via kertas, via fax, via email ataupun via YM. Message yang disampaikan begitu akrabnya, “Oke deh Pak fulan, nyang penting rapatnya lancar khaaan. Kalau begitchu.., ngga usah ditunda lagi yah, otre deh .“ Meskipun sudah sering beraktivitas bersama, namun ikhwan-akhwat tetaplah bukan sepasang suami isteri yang bisa mengakrabkan diri dengan bebasnya. Walau ini hanya bahasa tulisan, namun dapat membekas di hati si penerima ataupun si pengirim sendiri.

10. Curhat
“Duh, bagaimana ya…., ane bingung nih, banyak masalah begini … dan begitu, akh….” Curhat berduaan akan menimbulkan kedekatan, lalu ikatan hati, kemudian dapat menimbulkan permainan hati yang bisa menganggu tribulasi da’wah. Apatah lagi bila yang dicurhatkan tidak ada sangkut pautnya dengan da’wah.

11 Yahoo Messenger/Chatting Yang Tidak Urgen
YM termasuk fasilitas. Tidaklah berdosa bila ingin menyampaikan hal-hal penting di sini. Namun menjadi bermasalah bila topik pembicaraan melebar kemana-mana dan tidak fokus pada da’wah karena khalwat virtual bisa saja terjadi.

12. Bercanda ikhwan-akhwat
“Biasa aza lagi, ukhtiii… hehehehe,” ujar seorang ikhwan sambil tertawa. Bahkan mungkin karena terlalu banyak syetan di sekeliling, sang akhwat hampir saja mencubit lengan sang ikhwan.

Dalil untuk nomor 1-5:
a. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (HR.Ahmad)

b. Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaknya mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya……” (QS.24: 30)

c. Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya……” (QS.24: 31)

d. Rasulullah SAW bersabda, “Pandangan mata adalah salah satu dari panah-panah iblis, barangsiapa menundukkannya karena Allah, maka akan dirasakan manisnya iman dalam hatinya.”

e. Rasulullah saw. Bersabda, "Wahai Ali, janganlah engkau ikuti pandangan yang satu dengan pandangan yang lain. Engkau hanya boleh melakukan pandangan yang pertama, sedang pandangan yang kedua adalah resiko bagimu." (HR Ahmad)

Dalil untuk nomor 6-12:
"... Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit di dalam hatinya..." (Al Ahzab: 32)

Penutup

Di dalam Islam, pergaulan laki-laki dan perempuan sangatlah dijaga. Kewajiban berjillbab, menundukkan pandangan, tidak khalwat (berduaan), tidak ikhtilath (bercampur baur), tidak tunduk dalam berbicara (mendayu-dayu) dan dorongan Islam untuk segera menikah, itu semua adalah penjagaan tatanan kehidupan sosial muslim agar terjaga kehormatan dan kemuliaannya.

Kehormatan seorang muslim sangatlah dipelihara di dalam Islam, sampai-sampai untuk mendekati zinanya saja sudah dilarang. “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra:32).

Pelanggaran di atas dapat dikategorikan kepada hal-hal yang mendekati zina karena jika dibiarkan, bukan tidak mungkin akan mengarah pada zina yang sesungguhnya, na’udzubillah. Maka, bersama-sama kita saling menjaga pergaulan ikhwan-akhwat. Wahai akhwat…., jagalah para ikhwan. Dan wahai ikhwan…., jagalah para akhwat. Jagalah agar tidak terjerumus ke dalam kategori mendekati zina.

“Ya Rabbi…, istiqomahkanlah kami di jalan-Mu. Jangan sampai kami tergelincir ataupun terkena debu-debu yang dapat mengotori perjuangan kami di jalan-Mu, yang jika saja Engkau tak tampakkan kesalahan-kesalahan itu pada kami sekarang, niscaya kami tak menyadari kesalahan itu selamanya. Ampunilah kami ya Allah…… Tolonglah kami membersihkannya hingga dapat bercahaya kembali cermin hati kami. Kabulkanlah ya Allah… “

Kamis, 29 Januari 2009

PETANI Ibarat Pekerja Dakwah


Di sebuah tepian ladang, seorang anak memperhatikan ayahnya yang terus saja bekerja. Sang ayah terlihat menggemburkan tanah dengan cangkul, membaurkan pupuk di sekitar tanaman, dan membabat tumbuhan liar di sekitar ladang. Sesekali, sang ayah harus mencabut ilalang. Anak itu terus memperhatikan dengan heran.

“Kenapa ayah melakukan itu? Bukankah ilalang itu masih terlalu kecil untuk dicabut?” teriak si anak sambil berjalan mendekati ayahnya. Ia membawakan air yang baru saja ia tuang ke sebuah gelas kayu. Sambil tangan kiri menghapus peluh, tangan kanan ayah anak itu meraih gelas dari tangan kecil anaknya.

“Anakku, inilah pekerjaan petani. Kelak kamu akan tahu,” jawab sang ayah singkat. Setelah minum, petani itu memanggul cangkul di dekatnya. “Hari sudah sore! Mari kita pulang, Nak!” ucap sang ayah sambil meraih pundak anak lelakinya itu.

Sepulang dari ladang, petani itu sakit. Hingga beberapa hari, ia dan anaknya tidak bisa ke ladang yang jaraknya sekitar satu jam berjalan kaki, naik dan turun. Petani itu tampak gelisah. Ia seperti ingin memaksakan diri berangkat ke ladang.

“Ayah kenapa? Bukankah waktu itu ladangnya sudah ayah bersihkan, dipupuk, dan dipagar,” suara anak itu sambil membantu ayahnya bangun dari tempat tidur. “Itu belum cukup, Nak. Kelak kamu akan tahu!” ucap si petani sambil tertatih-tatih keluar rumah. Ia mengajak anaknya pergi ke ladang.

Setibanya di ladang, anak itu terperangah. Ia seperti tidak percaya apa yang dilihat. Hampir seluruh ladang ditutupi ilalang. Cabai dan tomat yang tumbuh mulai membusuk. Daun-daunnya pun dihinggapi ulat.

“Anakku, inilah yang ayah maksud tugas petani. Kini kamu paham, kenapa ayah gelisah. Karena seorang petani tidak cukup hanya menanam, menebar pupuk, dan memagar tanamannya. Tapi, ia juga harus merawat. Tiap hari, tiap saat!” jelas sang ayah sambil menatap sang anak yang masih terkesima dengan ilalang di sekitar ladang ayahnya.
**

Mereka yang terpilih Allah swt. sebagai pegiat dakwah, sadar betul kalau tugasnya begitu penting, mulia, dan sekaligus berat. Berat karena tugas itu tidak cukup sekadar menanam kesadaran, menebar sarana dakwah, dan memagari ladang dakwah dari terjangan angin dan hewan perusak. Lebih dari itu, ia harus merawat.

Seperti halnya ladang tanaman, ladang dakwah bukan benda mati yang akan lurus-lurus saja kalau ditinggal pergi. Tanahnya hidup. Udara di sekitar pun dinamis. Yang akan tumbuh bukan saja tanaman yang diinginkan, tanaman liar seperti ilalang pun akan tumbuh subur merebut energi kesuburan ladang. Belum lagi telur-telur hama yang hinggap ke daun tanaman setelah berterbangan digiring angin.

Pegiat dakwah persis seperti seorang petani terhadap tanamannya. Ia sebenarnya sedang berlomba dengan ilalang dan hama. Kalau ia tidak sempat merawat, ilalang dan hama yang akan ambil alih. Kelak, jangan kecewa kalau buah-buah tanaman yang akan dipetik sudah lebih dulu membusuk. (mnuh)

Senin, 29 September 2008

Rencana Allah yang teramat indah

Desi Nuraeni
(Sekretaris Bidang Kaderisasi FOSI FP periode 2008-2009)


Allah telah merencanakan semua hal yang akan terjadi pada diri kita, lingkungan kita, Negara kita dan bahkan dunia yang kita pijak saat ini, baik yang ada di bumi, laut dan bahkan udara. Sebagian orang berfikir bahwasanya rencana Allah itu teramat rumit untuk dipahami dan terkadang orang-orang tersebut kurang dapat menerima hal yang telah direncanakan dan dikehendaki oleh Allah. Akibatnya akan tumbuh benih-benih penyakit hati pada diri mereka. Dan ketenangan hati yang diharapkan pun tak kunjung datang.

Sebaliknya orang yang berfikir bahwa rencana Allah itu sangat indah, dan menerima atau legowo dengan apa yang telah direncanakan dan dikehendaki oleh Allah maka ketenangan hati akan muncul pada dirinya. Hal ini dapat disebabkan oleh keikhlasan untuk menerima ujian-ujian yang telah diberikan oleh Nya. Sesulit apapun ujian yang diterima asalkan ikhlas, berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan ujiannya,dan tak lupa berdoa (meminta pertolongan dari Allah). Maka Insyallah ujian atau dapat disebut juga sebagian kecil dari rencana Allah akan terasa ringan dan indah untuk dinikmati.

Sedikit pengalaman tentang Rencana Allah.Aku benar-benar merasakan indahnya rencana Allah di waktu yang tak kusadari. Salah satu ujian atau cobaan saat itu adalah terasa penat nya kehidupan ini. Baik kehidupan yang diselimuti dengan kuliah yang padat, tugas yang menumpuk, kondisi keluarga yang kurang baik, pekerjaan rumah yang tak terkendali hingga organisasi yang banyak menyita waktu. Semua itu membuat tubuh kecil ku terasa ambruk. Namun ditengah kepanatan itu ada hal-hal kecil yang menyadarkan ku bahwa Allah memiliki maksud dari semua ini. Ujian ini telah memberikan banyak manfaat yang baik untuk sekarang ataupun masa depan. Dari sini ternyata aku terlebih dahulu dapat mempelajari bagaimana memanaje waktu, bagaimana hidup berkeluarga, bagaimana dapat menjaga perasaan orang, dll. Ini semua membantu ku dalam mempersiapkan kehidupan masa yang akan datang. Oleh sebab tetap berkhusnuzonlah, sebab Allah akan selalu memberikan yang terbaik untuk kita.

Dibalik cobaan-cobaan yang Allah berikan pada diri kita ternyata Allah sudah merencanakan sesuatu yang indah jika kita dapat melewati cobaan-cobaan tersebut. Saat ini mungkin kita sedang di uji tapi suatu saat nanti kita akan merasakan indahnya hasil dari ujian-ujian yang sudah kita lewati dengan ikhlas. Saran ane, "Jangan pernah putus asa dalam menghadapi segala uji". OptimisLah!! Bahwa bantuan Allah pasti akan datang di waktu yang tidak kita duga.

Senin, 08 September 2008

Membangun Peradaban

Muhammad Luthfie
(Alumni FOSI FP)


Pada kenyataannya, untuk membangun peradaban, kita memang harus berpikir lebih besar, menembus tempurung-tempurung otak kita, menciptakan sesuatu yang belum pernah terpikirkan oleh orang lain. Sangat tidak produktif apabila detik-detik yang mahal ini habis untuk membangun pepesan kosong kehidupan, lenyap untuk hal-hal yang tidak substansi.

Pada saatnya, orang-orang luar biasa akan tampak bersinar, jelas karya-karyanya, terpancar keikhlasannya. Orang-orang luar biasa berhasil menutup kesalahan-kesalahan besarnya dengan kebermanfaatan yang jauh lebih besar untuk dunia. Nafasnya yang tersisa diniatkan untuk hidup di garis perjuangan, sampai kematian mulia menjemputnya.

Jangan sia-siakan nyawa yang telah Allah swt berikan pada kita. Hiduplah dengan ruh semangat yang bergelora, jadikan setiap detik yang kau miliki menjadi butiran karya, jadikan setiap kata yang kau lepas dari pikiranmu sesuatu yang mampu mengubah kearah kebenaran, jadikan setiap hembusan nafasmu senantiasa menyebut nama Penciptamu. Bergeraklah terus, Allah swt pasti menilai setiap pengorbanan yang kita berikan untuk membangun peradaban.

Akan tiba masanya, para pembuat sejarah besar dunia akan berpandangan dan berkomunikasi dalam keheningan batinnya, mereka saling mengenal watak sesama pembuat sejarah, mereka berkompetisi memakmurkan bumi, mereka hanya hidup satu kali namun memberikan manfaat yang tak bertepi bagi dunia.

Dimanakah manusia-manusia ikhlas itu? Mereka yang berkarya tanpa pamrih, hanya Allah swt tujuannya. Dimanakah para pemberani itu? Mereka yang mengukir sejarah dengan keberaniannya untuk terus menggunakan sisa usianya dengan pengorbanan tulus untuk membangun peradaban.

Semua bergerak, bertahap, dan pasti. Orang-orang yang tidak berbuat apa-apa hanya akan meninggalkan batu nisan di kuburannya, mereka tidak pernah berkarya, oleh karena itu tak ada pula yang melanjutkan pikiran-pikirannya. Orang-orang yang hidup dalam pengorbanan yang dahsyat untuk menghasilkan suatu karya akan mendapatkan keabadian yang tak kalah dahsyatnya, abadi gagasan mutiaranya di bumi dan abadi kenikmatannya di surga. Ada dua modal penting untuk menjadi pembuat sejarah besar, yakni keikhlasan dan keberanian.

Rabu, 16 Juli 2008

Sahabat

Desi Nuraini
(Sekretaris Bidang Kaderisasi FOSI FP periode 2008-2009)




Sahabat,
Sadarilah bahwa jalan Dakwah Mulia yang disertai dengan Jihad Fisabilillah ini,
Akan penuh dengan onak dan duri.

Sahabat,
Jadilah panah-panah tang terbujur,
Yang siap di lepaskan dari bujur,
Tuju sasaran, YAHUDI LAKNATULLAH'ALAIHIM.

Sahabat,
Jadilah pedang yang senantiasa terhunus,
Yang siap terayun menebas musuh, YAHUDI LAKNATULLAH'ALAIHIM.

Sahabat,
Jadilah tombak-tombak yang berjajar,
Yang siap dilontarkan dan menghujam,
Menembus dada YAHUDI LAKNATULLAH'ALAIHIM,
Luluhlantakkan keangkuhan mereka.

Sahabat,
Jadilah butir-butir peluru,
Yang siap di tembakkan dan melesat maju,
Koyak dan tumbangkan kedzaliman tanpa rasa malu.

Sahabat,
Jadilah mata pena yang tajam,
Yang siap menuliskan kebanaran,
Janganlah ragu untuk membela keadilan.

Sahabat,
Jadilah pisau belati yang selalu tajam,
Bak kesabaran yang tak pernah padam,
'Tuk arungi dakwah ini jalan yang panjang dan berliku.

(inspiration from Izzis)